Deteksipost.id, Lamongan 28 Desember 2025 – Tim Studi Independen Techquest Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan workshop bertajuk SUBURASA, yaitu inovasi kompos organik berbasis mikroba indigenous yang memanfaatkan limbah rumput non-invasif pekarangan dan gulma invasif sawah.
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Latukan, Kabupaten Lamongan pada 01 Desember 2025 sebagai upaya mendorong pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah organik berbasis potensi lokal.
Pada kegiatan sosialisasi tersebut tim studi membagikan buku panduan kepada masyarakat tentang pembuatan kompos Suburasa
https://drive.google.com/file/d/1Ynp1fCr5sW9MlXtcJiaP-8bcrDTj0q8m/view?usp=drivesdk
Tim studi juga menjelaskan bahwa keberadaan rumput pekarangan dan gulma sawah yang selama ini sering dianggap tidak bernilai, bahkan dibakar atau dibuang sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos organik yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.
SUBURASA dikembangkan melalui pemanfaatan mikroba indigenous, yaitu mikroorganisme lokal yang berperan mempercepat proses dekomposisi bahan organik, meningkatkan kualitas kompos, serta memperbaiki struktur dan ketersediaan hara tanah secara alami, sehingga ramah lingkungan dan mudah diterapkan oleh masyarakat desa.
Sekretaris Desa Latukan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan petani. “Para petani di Desa Latukan sudah sangat berpengalaman di bidang pertanian, namun tidak ada salahnya jika penelitian adik-adik dari Unesa dan teori yang sudah didapatkan di bangku perkuliahan ini bisa dikembangkan atau dikolaborasikan dengan pertanian disini. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran bersama yang mengkolaborasikan antara teori dan praktik di lapangan,” ujarnya.
Ia juga berharap inovasi yang diperkenalkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. “Kami berharap hasil sosialisasi dan workshop ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan pertimbangan bagi petani untuk mendukung pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan di Desa Latukan,” tambahnya.
Selain itu, warga yang hadir juga menyampaikan sejumlah masukan kepada tim. Salah satu warga menilai bahwa proses fermentasi kompos selama kurang lebih empat minggu masih tergolong cukup lama.
Warga juga mengusulkan agar tim dapat merancang inovasi atau formula khusus yang mampu mempercepat pelapukan jerami di lahan sawah, mengingat proses pelapukan jerami yang selama ini memerlukan waktu sekitar tiga minggu dinilai masih kurang efisien.
Menanggapi masukan tersebut, Tim Studi Independen Techquest UNESA menyampaikan bahwa saran dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi dan pengembangan inovasi selanjutnya, khususnya dalam merancang bioaktivator atau formulasi yang mampu mempercepat proses dekomposisi limbah pertanian di lahan sawah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan workshop atau praktik pembuatan kompos SUBURASA secara langsung di lapangan. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memahami bahan baku, tahapan fermentasi, serta ciri-ciri kompos matang yang siap diaplikasikan ke lahan pertanian dengan metode yang sederhana dan aplikatif.
Melalui kegiatan ini, Tim Studi Independen Techquest UNESA berharap agar masyarakat Desa Latukan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, meningkatkan pengelolaan limbah organik, serta mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. “Dari limbah tak bernilai, menjadi sumber kesuburan tanah”.
