Nobar Film Marsinah, Cara Sarbumusi Lamongan Maknai Hari Buruh

Uncategorized7 Dilihat

Lamongan, Deteksipost.id – Menyambut Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026, Dewan Pimpinan Cabang Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPC Sarbumusi) Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film “Marsinah: Cry Justice”. Acara ini dihadiri unsur Forkopimda, tokoh agama, aktivis, mahasiswa, serta ratusan buruh dari berbagai sektor di Lamongan.

Kegiatan diawali dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan buruh perempuan, Marsinah, yang gugur 33 tahun silam. Doa tersebut juga dipanjatkan untuk kesejahteraan para pekerja serta keberlanjutan dunia industri di Lamongan agar tetap kompetitif dan mandiri.

Selanjutnya, digelar refleksi spiritual dan sosial bertajuk “Membangun Keadilan dan Solidaritas” di halaman Kantor Disnakertrans Lamongan pada Kamis malam (30/4/2026). Ketua DPC Sarbumusi Lamongan, Nihrul Bahi Alhaidar, menegaskan bahwa perjuangan buruh kini memasuki fase baru yang lebih matang melalui pendekatan reflektif dan advokasi strategis.

Ia juga menyoroti pentingnya figur Marsinah sebagai simbol sekaligus inspirasi perjuangan. Menurutnya, penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional oleh Prabowo Subianto pada 2025 menjadi pengakuan penting atas perjuangan hak-hak buruh di Indonesia.

“Penayangan film ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan akar perjuangan. Marsinah bukan sekadar ikon perlawanan, tetapi juga representasi bahwa membela hak pekerja adalah bentuk pengabdian bagi negara,” ujarnya.

Gus Irul sapaan akrabnya menambahkan bahwa May Day seharusnya dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Ia menekankan pentingnya memperkuat solidaritas antarburuh serta menjadikan perjuangan sebagai bagian dari nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Sementara itu, Ketua PCNU Lamongan, KH Syahrul Munir, dalam orasinya mengaitkan perjuangan buruh dengan nilai-nilai keagamaan. Ia menyinggung keteladanan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang konsisten membela kaum tertindas, termasuk buruh dan pekerja migran.

“Gus Dur pernah menegaskan bahwa membela buruh adalah membela martabat bangsa. Tanpa keadilan, kesejahteraan hanya menjadi ilusi,” tegasnya.

Ia juga mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang memuliakan pekerja, sebagai simbol bahwa kerja keras memiliki nilai luhur dalam ajaran Islam.

Pemutaran film berlangsung dalam suasana penuh haru. Saat adegan terakhir ditampilkan, banyak peserta yang tak kuasa menahan tangis. Momen tersebut menjadi refleksi mendalam atas sejarah kelam perjuangan buruh di Indonesia.

Berbeda dari aksi demonstrasi pada umumnya, peringatan May Day di Lamongan tahun ini diisi dengan pendekatan kontemplatif. Para peserta memilih duduk bersama, menyimak, dan merenungkan makna perjuangan melalui layar.

Tidak ada aksi turun ke jalan atau pembakaran ban. May Day 2026 di Lamongan menjadi ruang hening untuk mengenang: satu layar, satu luka, satu nama Marsinah.

Perjuangan yang dahulu dipicu tuntutan kenaikan upah sebesar Rp1.700 pada 1993 kini kembali diangkat sebagai pengingat sejarah. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk memastikan bahwa pengorbanan tersebut tidak dilupakan.

May Day bukan sekadar hari libur. Ia adalah ingatan kolektif tentang hak, keadilan, dan pengorbanan. Melalui nobar ini, peserta diajak menyadari bahwa setiap kesejahteraan hari ini tidak lepas dari perjuangan di masa lalu.

Di tengah dinamika tuntutan buruh, satu nama tetap hidup dalam ingatan: Marsinah. May Day 2026 di Lamongan menjadi momentum refleksi diam, namun penuh makna agar ke depan, keberanian untuk memperjuangkan keadilan semakin kuat.

 

 

 

Editor : Lilis Suganda

Sumber : Ahmad Mundik