LAMONGAN | DETEKSIPOST.ID – Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Anas Urbaningrum, menyoroti tren penurunan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan.
Pernyataan itu disampaikan Anas melalui akun X pribadinya. Ia mengaku merujuk pada berbagai hasil survei, baik yang telah dipublikasikan maupun yang belum dirilis secara luas.
Menurut Anas, penurunan tingkat kepuasan publik terjadi ketika masa pemerintahan belum genap dua tahun. Padahal, Prabowo memulai pemerintahannya dengan tingkat dukungan publik yang sangat tinggi.
“Dari berbagai survei, baik yang dirilis maupun tidak, secara umum approval rating pemerintah turun. Angkanya boleh dibilang cukup mengkhawatirkan,” tulis Anas.
“Termasuk jika ditilik dari sudut masa tugas yang belum genap dua tahun, dengan modal awal yang (sangat) tinggi,” lanjutnya.
Meski demikian, Anas menilai masih ada sejumlah langkah yang dapat ditempuh pemerintah untuk memperbaiki kondisi tersebut.
1. Kembali Fokus pada Janji Kampanye
Anas menyarankan pemerintah memprioritaskan realisasi janji-janji kampanye, terutama di tengah keterbatasan anggaran. Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terlalu banyak meluncurkan program baru yang bersifat dadakan.
“Kembali fokus untuk memenuhi janji kampanye yang eksplisit. Apalagi dengan ketersediaan anggaran yang relatif cupet. Manuver berupa kreasi program-program yang cenderung dadakan, bersifat ad hoc, sebaiknya tidak lagi dilakukan,” ujarnya.
2. Perkuat Konsolidasi Kabinet
Menurut Anas, seluruh jajaran kabinet harus bekerja dalam irama yang sama di bawah kepemimpinan Presiden. Ia juga menilai kesan adanya menteri yang lebih diutamakan dibanding yang lain perlu segera dihilangkan.
“Konsolidasi kerja dan kinerja pemerintahan harus benar-benar utuh dan bersatu. Kesan sepintas ada yang ‘diutamakan’ dan ‘dinomorduakan’, termasuk dalam hal personel kabinet, penting untuk diselesaikan. Kabinet mesti benar-benar bergerak bersama dalam irama kerja yang dipimpin Presiden,” katanya.
3. Benahi Komunikasi Publik
Anas juga menyoroti pentingnya strategi komunikasi pemerintah. Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih banyak membangun agenda dan isu strategis daripada sekadar merespons polemik yang berkembang.
“Memperbaiki dan meningkatkan komunikasi publik pemerintah. Memproduksi isu jauh lebih baik ketimbang menanggapi, termasuk klarifikasi. Hal-hal yang berpotensi memunculkan kontroversi dan kesalahpahaman penting untuk ditekan atau dikurangi sedaya upaya,” ujarnya.
4. Fokus pada Kebutuhan Rakyat
Anas meminta pemerintah menggenjot kinerja pada sektor-sektor yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, pelayanan publik, dan keamanan.
“Menggenjot kinerja secara lebih khusus untuk hal ikhwal yang terkait langsung dengan hajat hidup rakyat banyak, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, kegesitan dalam pelayanan, dan rasa aman,” ungkapnya.
5. Rampingkan Struktur Kabinet
Saran terakhir yang disampaikan Anas adalah merampingkan struktur kabinet. Menurutnya, kabinet yang lebih ramping akan mempermudah koordinasi, meningkatkan efektivitas kerja, sekaligus membangun citra pemerintahan yang efisien.
“Merampingkan struktur kabinet. Ini akan mempermudah konsolidasi dan koordinasi, serta menggenjot kinerja. Citra kerja keras dan efisiensi pemerintah juga lebih mudah dibangun dengan postur kabinet yang lebih ramping dan gesit,” katanya.
Anas mengingatkan, kabinet yang terlalu besar berpotensi menciptakan ketimpangan kinerja sehingga beban kerja Presiden tidak diimbangi oleh seluruh jajaran pembantunya.
“Kabinet yang terlalu gemuk bisa menciptakan keadaan: Presiden lari kencang, kerja sangat keras, tetapi ada sebagian dari ‘keluarga besar kabinet’ hanya bekerja sekadarnya,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Anas berharap pemerintah terus melakukan pembenahan agar kinerja meningkat dan tingkat kepuasan publik kembali membaik.
“Rakyat berharap kinerja pemerintah makin baik dan itu akan terpantul pada angka approval rating yang juga baik (membaik),” pungkasnya.
Rep. Red. Faisa NC
